DATA BMKG 29 September 2020
Aceh Booming Perceraian (II)

​​​​​​Perceraian di Aceh, Gugatan Istri Tertinggi

​​​​​​Perceraian di Aceh, Gugatan Istri Tertinggi

Ilustrasi perceraian : Famale

HABADAILY.COM - Data yang diperoleh dari panitera Mahkamah Syar’iyah Provinsi Aceh, hingga Oktober 2019 saja, pihaknya telah memutuskan sedikitnya 4.824 kasus perceraian.

Menariknya, dari jumlah tersebut, kasus gugat cerai yang dilayangkan oleh isteri terhadap suami mencapai dua kali lebih tinggi, yakni 3.581 kasus.

“Sisanya cerai talak (suami terhadap isteri),” ujar Panitera Muda (Panmud) Hukum MS Aceh, A Latif saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu pekan lalu.

Meski rekapitulasi data hasil putusannya belum genap setahun, Latif melanjutkan, trend tingginya angka kasus perceraian tersebut nyaris menyamai jumlah di beberapa tahun sebelumnya.

Di tahun 2017, dari 4.917 kasus perceraian, 73 persennya merupakan gugatan isteri. Demikian juga beranjak ke tahun 2018, terjadi peningkatan menjadi 5.179 kasus, dimana 72 persennya (3.752 kasus) terkait cerai gugat.

“Kalau tahun 2019, sampai Oktober tercatat 4.824 kasus, 74 persennya isteri yang menggugat cerai suaminya,” jelas Latif.

Untuk kasus cerai gugat tahun ini paling banyak diterima di Lhoksukon, Aceh Utara. Jumlahnya mencapai 427 kasus, atau 80 persen lebih banyak dibandingkan kasus cerai talak.

Sementara faktor penyebab perceraian ini beragam. Latif menjelaskan, mahkamah dalam laporannya mengklasifikasikan 14 faktor, yakni karena zina, mabuk, madat, judi, meninggalkan salah satu pihak, dihukum penjara, poligami, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), cacat badan, perselisihan terus menerus,  kawin paksa, kondisi ekonomi, murtad, dan sisanya lain-lain.

“Memang paling banyak kasus cerai itu disebabkan karena perselisihan, sampai 70 persen,” kata dia.

Sedangkan penyebab kedua terbanyak yakni isteri atau suami yang meninggalkan salah satu pihak (867 kasus).  

Rapuhnya ketahanan keluarga merupakan masalah serius di Aceh. Setiap tahunnya, angka kasus perceraian terus meningkat. Menyikapi itu, menurut Latif penting mengoptimalkan peran penasihat perkawinan. Sosialisasi berbagai pihak terkait guna meningkatkan kesadaran berumah tangga, perlu terus dilakukan.

“Di tingkat gampong, perlu ditanamkan spirit mediasi secara bertahap dengan mengesampingkan ego,” kata dia.

Artikel Ini Sudah Tayang di Media Cetak : HD Indonesia Edisi : 08  (16-30 NOVEMBER 2019)

Komentar
Terbaru