DATA BMKG 29 September 2020

Israel Paksa Warga Palestina Hancurkan Rumah Sendiri

Israel Paksa Warga Palestina Hancurkan Rumah Sendiri

HABADAILY.COM - Murad dan Johar Hashimeh menghabiskan sebagian besar hari Jumat dengan memindahkan semua perabotan, pakaian dan barang-barang lainnya dari sebuah kamar, di rumah sederhana mereka di lingkungan Wadi Qadoum di Yerussalem Timur.

Pada hari Sabtu, sebuah buldoser akan tiba untuk meruntuhkan kamar yang mereka tempati selama lebih dari 20 tahun.

Pada 1998, penduduk Palestina memperluas rumah kecil yang mereka tempati agar mampu menampung istri dan anak-anak mereka. Setelah bangunan tersebut selesai, mereka lantas membagi seluruh ruangan menjadi apartemen bagi masing-masing keluarga.

Namun, otoritas Israel yang menduduki wilayah tersebut mengirimkan peringatan ihwal izin perluasan bangunan tersebut. Mereka pun diminta untuk menghancurkan bangunan itu.

"Sayangnya, mendapatkan izin membutuhkan prosedur yang sulit dan biayanya terlalu tinggi," kata Murad (38) seperti dilansir Al Jazeera, Sabtu (08/12/2018).

Murad memiliki empat orang anak dan kini tidak memiliki pekerjaan. Paru-parunya juga tidak bekerja dengan baik sehingga dia harus kehilangan pekerjaannya.

Murad sebenarnya telah menempuh jalur hukum yang melelahkan pada Juni lalu. Namun, pengadilan Israel justru memvonis agar bangunan tambahan tersebut dihancurkan sebelum 10 Desember 2018. Murad dan Johar kemudian membuat keputusan sulit untuk menghancurkan sendiri apartemen tambahan itu.

Bagi Murad, menghancurkan bangunan tersebut pilihan lebih murah daripada membayar denda dan dipenjara Israel. 

Pembongkaran dan pemindahan perabotan menghabiskan biaya 10 ribu USD. Sementara jika memilih bertahan, Israel bakal mendenda mereka sekitar 16 ribu USD.

"Ini menjadi kenyataan yang sulit bagi kita karena ini adalah musim dingin. Saya memiliki anak-anak kecil, kita semua akan tinggal di satu ruangan, dan dengan anak-anak pergi ke sekolah, itu akan menjadi sangat sulit," kata istri Murad, Oum Taqi, kepada Al Jazeera.

Dia mengatakan keluarganya berencana tinggal bersama orangtuanya saat ini. 

Saudara-saudara mereka juga khawatir tentang bagian rumah yang tidak dibongkar, tetapi akan rusak karena buldoser. Bagian rumah yang tidak dibongkar itu juga tidak cocok untuk mereka tempati.

"Aku pada saat ini akan pergi ke rumah mertuaku, dan berharap mereka bersamaku sampai kita dapat menyelesaikan masalah ini," kata Johar lagi.

Kakak laki-laki dan istrinya memiliki enam anak. Dia bekerja paruh waktu di toko roti.

Al Jazeera menuliskan pembongkaran rumah biasa terjadi di Yerussalem Timur. 

B'tselem, sebuah organisasi hak asasi manusia Israel, bahkan merilis pemerintah mereka telah menghancurkan 782 unit rumah dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini menyebabkan 2 ribu warga Palestina kehilangan tempat tinggal. Sekitar 103 rumah tambahan, dan bakal bertambah menjadi 104 rumah, dihancurkan pemilik untuk menghindari denda.

Human Rights Watch menyebutkan kebijakan Israel yang membatasi pembangunan rumah warga Palestina di Jerussalem Timur, merupakan bagian dari rencana diskriminatif untuk memperkuat pendudukan Yahudi di Yerussalem.

"Pencabutan kepresidenan adalah bagian dari berbagai kebijakan yang mencakup perluasan pemukiman yang melanggar hukum, pembongkaran rumah, dan pembatasan pembangunan di kota yang telah menggeser demografi di Yerussalem Timur," lapor Human Rights Watch.

Keluarga Hashimeh telah menerima dukungan dari para donor di Amerika Serikat dan tempat lain. 

Kampanye crowdfunding telah mengumpulkan lebih dari 2 ribu USD untuk membantu keluarga yang menjadi korban pembongkaran rumah.

"Ini adalah tingkat kebobrokan baru ketika seorang penindas membuat korban harus membayar untuk penindasan yang mereka lakukan sendiri. Israel mengirimkan tagihan ke warga Palestina yang rumahnya dihancurkan," kata Nora Lester Morad, yang membantu mengatur kampanye kepada Al Jazeera.

"Tapi pembongkaran rumah sendiri bahkan lebih jauh lagi. Hal ini memaksa warga Palestina berpartisipasi dalam pelanggaran hak mereka sendiri secara fisik. Penghancuran rumah sendiri adalah salah satu dari banyak jenis ketidakadilan yang dilakukan Israel, dan ini tidak terpublikasi di luar Palestina," tambah Nora.

Kembali ke Wadi Qadom, Oum Taqi berharap kondisi serupa tidak dialami oleh keluarga Palestina yang lain. "Tentu saja, saya tidak menginginkan situasi ini pada siapa pun," katanya. "Aku harap Allah menjauhkannya dari orang lain."[]

Sumber: Al Jazeera

Komentar
Terbaru