DATA BMKG 25 Mei 2020

Joel Pasee: Dari Qari Ke Pasar Musik Internasional

Joel Pasee: Dari Qari Ke Pasar Musik Internasional

Joel Pasee: Dari Qari Ke Pasar Musik Internasional :FOTO: HABADAILY.COM/IST

HABADAILY.COM - Sejak kecil, Joel Pase memang terbiasa mengolah vokal bersama ayahnya yang merupakan syeh dari grup zikir, barzanji dan rukon di Krueng Geukueh, Aceh Utara.

Karena itu, Idan (sapaan Joel kanak-kanak) kerap dikenalkan dengan nada-nada senandung qasidah dan ikut pula dilibatkan pada beberapa event pertunjukan sang ayah.

Kala itu, pria kelahiran Blang Pulo 24 Agustus 1985 ini kerap mengikuti bacaan shalawat dan zikir beramai ramai tim hingga tampil sendiri berqasidah pada acara walimah, maulid dan perayaan hari besar lainnya.

Sejak berusia 7-8 tahun, Idan sudah sering mengikuti lomba seni antar sekolah atau antar balai pengajian, bahkan selalu pulang dengan membawa hadiah dan piala. Saat duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, penampilan Joel di atas pentas mendapat perhatian pemilik sebuah Sanggar Seni Tari di Krueng Geukueh. Ia pun direkrut dan menjadi syahi (aneuk syahi tarian).

Sejak itu, Joel sudah mulai tampil di beberapa event seni tari di Aceh Utara, di samping menjadi qari (pembaca Alquran) pada berbagai acara resmi. 
Berkesenian semacam itu dijalani Joel sejak duduk di kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah hingga usai pendidikannya di Pesantren Modern Misbahul Ulum Paloh.

Selanjutnya, Joel Pase terjun ke industri musik Aceh dengan menelurkan sederet single dan album. Pada 2000, Joel meluncurkan album dangdut Aceh bertajuk ‘Cut Jafar’ bersama Cut Intan dan adiknya Akhijoe. Selanjutnya, pada tahun 2003 dilibatkan album Qasidah bersama Tgk Faisal MH dan Kardinata Ayub, penyanyi Aceh yang lagi naik daun kala itu.

Saat melanjutkan pendidikan di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry leting 2003, Joel mulai bergabung dengan komunitas Teater Rongsokan dan Sanggar Seni Seulaweuet.

“Di situ saya mulai mengenal banyak hal seni dan budaya Aceh, mengenal para seniman senior seperti Rafly, Ayah Panton, Momo, Opay, Adek, Jamal, Kaka, Ami, Ampon Yan, dan banyak nama beken lainnya,” papar Joel saat dijumpai HD Indonesia, belum lama ini. 

Kiprah pemilik nama asli Zul Afrizal ini perlahan mulai menapaki perjalanan dunia seni Aceh. Dari menjadi syeh seudati, syeh tarian tradisi dan kreasi, hingga ikut tampil bersama grup nasyid dan grup band ternama di Banda Aceh. Berbagai  event seni dan musik pun kemudian kerap menghadirkan Joel Pasee.

Tidak saja di level lokal, tapi juga sering tampil di pentas nasional dan internasional. Berkat kerja keras latihan nasyid, Joel juga dipercayakan menjadi vokalis nasyid Smile Voice Sanggar Seni Seulaweut IAIN-Ar Raniry.

Bersama group tersebut, ia berhasil menggarap single song dalam album kompilasi Seni Budaya Aceh bertajuk Rapai Aceh Berawal dari seorang qari yang gemar latihan mengolah vokal sejak kecil bersama ayahnya, kini Zoel Pase terkenal sebagai musisi Aceh dengan karakter suara tak tertandingi. Lagu-lagunya juga laku di pasar musik internasional.

Pada tahun 2004. Setelah musibah tsunami menimpa Aceh, Jol Pase pernah disandingkan dengan Salbra Muda dan Yacob Samalanga di Saleum Group hingga melahirkan satu album yang booming di pasaran.

Selanjut Joel Pase hadir dalam Album Cupa Band yang diproduksi Meuligoe hingga dapat merilis Album CD. Diakui Joel, bukan perjalanan yang mudah untuk menjadi seorang seniman hebat dan dikenal sekaligus dikenang sebagai legenda di sebuah massa. Namun, atas izin Allah dan rekomendasi beberapa rekan pada tahun 2007 Joel Pase juga ikut dilibatkan dalam album kompilasi Damee bersama beberapa seniman Aceh dan nasional lainnya.

Tidak saja menggeluti dunia seni, setelah menyelesaikan studinya di IAIN Ar-Raniry pada 2008, Joel Pase juga menjadi tenaga pengajar Bahasa Arab dan pendidikan seni di Banda Aceh dan Lhokseumawe.

Profesi itu dijalaninya sambil mengisi jadwal-jadwal penampilannya di panggung hiburan. Pada tahun 2012, Joel kembali menggarap album solo yang mengangkat genre kolaborasi musik etnik-modern bertajuk Meusyeuhu.

Peluncuran album tersebut berhasil menghentakkan belantika musik Aceh. Album Meusyeuhu mendapat respon positif dari berbagai elemen masyarakat yang dibuktikan dengan tingginya penjualan di pasaran, hingga menggunakan lagu-lagu di album itu menjadi nada sambung telepon seluler.

Lagi-lagi, pada 2017 Joel Pase meluncurkan album solo bertajuk Nazam Gaseh. “Saat ini saya juga sedang fokus dalam proses menggarap album baru bergenre etnik kolaborasi modern,” katanya. Meski begitu, sepanjang karir yang dijalaninya, Joel Pase merasa masih lemah dan serba kekurangan.

“Sebagai manusia yang tak diberi kesempurnaan nyata dan abadi, kita tentu banyak kekurangannya. Hanya milik Allah sang penguasa yang menggenggam semuanya,” katanya.

Padahal, Joel Pase merupakan salah satu penyanyi Aceh yang berhasil menggebrak pasar musik negeri jiran, Malaysia. Tak hanya menghibur warga Aceh yang ada di sana, Joel Pase berusaha menarik minat pecinta musik negeri seberang dengan menghadirkan dua single berbahasa Melayu.

Lantunan syair Joel Pase ini bisa dinikmati di Malaysia melalui Nada Sambung Pribadi (NSP) atau ring back tone (RBT) tiga operator di negeri jiran, yakni Maxis, DiGi dan Umobile. Dari lima lagu yang didaftarkan, tiga di antaranya adalah lagu berbahasa Aceh dan dua lagi berbahasa Melayu yang sampai kini masih laris di kalangan pengguna telepon seluler Malaysia.[]

Tulisan ini sudah di tayang di HD Indonesia  Edisi : 09  ( 01-15 DESEMBER 2019 )

Komentar
Baca Juga
Terbaru