'Sawit Bikin Serapan Air Hilang Hingga Terjadi Banjir'

Fajrizal - habadaily
17 Des 2018, 08:31 WIB
'Sawit Bikin Serapan Air Hilang Hingga Terjadi Banjir' Ketua Fraksi Partai Nanggroe Aceh (PNA) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen, Suhaimi Hamid

HABADAILY.COM – Rekomendasi pertambangan dan perkebunan sawit yang diberikan semakin luas di Kabupaten Bireuen, membuat serapan air berkurang mengakibatkan sering terjadi banjir.

Ketua Fraksi Partai Nanggroe Aceh (PNA) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen, Suhaimi Hamid menyoroti persoalan itu. Pemerintah Kabupaten Bireuen dinilai harus bertanggungjawab terhadap musibah banjir yang melanda beberapa kecamatan di Kota Juang.

Suhaimi menyebutkan, lewat rekomendasi sawit dan pertambangan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen, hingga terjadi perluasan lahan perkebunan sawit dan pertambangan di Bireuen. Akibatnya daerah serapan air berkurang karena sudah beralih fungsi menjadi lahan sawit, hingga terjadilah banjir setiap musim hujan tiba.

Dia mencontohkan seperti daerah pucuk Paya Sikameng, di daerah tersebut merupakan kawasan Alokasi Pengelolaan Air (APL). Tetapi APL ini sekarang sudah berubah fungsi semua menjadi perkebunan sawit.

“Perubahan fungsi ini terjadi karena lemahnya pengawas, padahal lahan sawit kalau sudah masuk dalam kawasan hutan produksi harus ditutup,” kata Suhaimi, Minggu(16/12/2018).

Menurut Suhaimi, selama ini Pemerintah Kabupaten Bireuen belum mengimplementasi Qanun Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan DAS Terpadu. Padahal  qanun ini  merupakan pedoman agar tidak merusaka lingkungan yang berakibat kerugian bagi masyarakat.

“Semua pihak agar sama-sama peduli terhadap persoalan banjir yang hampir setiap tahun terjadi di Kabupaten Bireuen,” tukasnya.

Lanjutnya, persoalan banjir di Bireuen sekarang bukan lagi banjir kiriman dari hulu. Dulunya sering menuduh karena curah hujan dari Bener Meriah dan Ulee Glee, sehingga Bireuen mendapatkan banjir kiriman. “Tetapi banjir kali ini murni karena Bireuen salah urus,” imbuhnya.

Suhaimi menyebutkan, kalau tidak dilakukan pencegahan secara dini. Banjir yang melanda Bireuen setiap tahun akan mengalami kerugian besar. Hampir setiap tahun harus  mengalokasi anggaran untuk biaya kerusakan akibat banjir.

“Sementara pencegahan tidak kita lakukan. Ini tentu kita akan rugi besar,” tutupnya.[acl]

Loading...