DATA BMKG 19 Oktober 2019

Derita Pianto Melawan Gizi Buruk

Derita Pianto Melawan Gizi Buruk

HABADAILY.COM—Bocah mungil itu terkulai lemas di atas kasur khusus di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Jarum infus menusuk tubuhnya. Pernafasannya menggunakan alat bantu. Selang-selang terlihat tersambung ke alat canggih di atas kepalanya.

Nama lengkapnya Pianto Syahputra Laia, berusia 20 bulan. Ketika Aksi Cepat Tanggap (ACT) – Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banda Aceh mengunjunginya, Jumat (9/3), ia sedang ditemani tantenya, Jernih Hati Nduru yang merupakan adik kandung ibu bocah malang ini.

Pianto sudah beberapa hari ini dirawat di RSUZA. Berat badan balita kelahiran 1 Agustus 2017, sekarang ini cuma 4 kilogram. Rasa iba akan muncul dengan sendirinya manakala melihat tubuhnya dengan tulang sudah seperti terbungkus kulit. Bibir anak kedua dari dua bersaudara itu pecah-pecah.

Kisah Pianto awalnya diketahui MRI Subulussalam. Keluarganya sendiri berasal dari Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, Aceh.

Menurut ibunya, Pianto menderita gizi buruk yang diawali diare berkelanjutan saat usianya masih 3 bulan. Kala itu, Jernih dan suaminya, Fanetona Laia, membawanya ke RSUD Subulussalam. Dokter mendiagnosanya mengalami gizi buruk. Seminggu di sana, kondisinya pun berangsur membaik.

Penyakit itu kembali menghantui saat Pianto berumur 1,8 tahun.  Ia pun dibawa berobat lagi ke RSUD Subulussalam. Waktu itu berat badannya hanya 5 kilogram. Kondisinya semakin parah. Hari kedua berat badannya turun drastis menjadi 2,5 kilogram. Di hari ketiga naik lagi menjadi 4 kilogram.

Penyakit gizi buruk yang dideritanya mulai menyebabkan komplikasi penyakit lain. Kata dokter, pasien Pianto juga terindikasi mengalami anemia dan kesehatan jantungnya mulai terganggu. Ia diharuskan rujuk ke RSUDZA atau rumah sakit di Medan, Sumatera Utara.

Fanetona dan Jernih sempat kebingungan bagaimana harus membawa anaknya ke rumah sakit provinsi di Banda Aceh. Kondisi ekonomi mereka tergolong sangat sulit. Sehari-hari, Fanetona dan anak sulungnya bekerja sebagai tukang babat di salah satu perusahaan perkebunan di Subulussalam. Sementara itu, Jernih tidak punya pilihan lain selain merawat Pianto di rumah.

Dalam sebulan, penghasilan keluarga kecil ini di bawah Rp400 ribu. Uang tersebut dicukup-cukupkan saja selama ini. Jangankan untuk sekadar membeli baju baru, bisa makan dengan uang sebesar itu saja mereka sudah sangat bersyukur.

Pada Jumat (1/3), Fanetona dan Jernih menerima santunan dari Global Zakat melalui MRI Subulussalam untuk bisa membawa anaknya berobat ke Banda Aceh serta biaya hidup di sana. Namun demikian, keluarga kecil itu masih sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya hidup selama masa pengobatan Pianto dan pemberdayaan ekonomi keluarga.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru