DATA BMKG 30 September 2020

Aksi Sosial Dyah Erti di Tengah Padatnya Aktivitas

Aksi Sosial Dyah Erti di Tengah Padatnya Aktivitas

Dyah Erti Idawati

HABADAILY.COM - Suatu siang di Bandara Lasikin, Simeulue, dengan gamis berwarna orange, seorang wanita berjalan santai disambut petugas bandara.

“Alhamdulillah, cuaca bersahabat pada hari kami mendarat di Simeulue. Dan bisa lancar melaksanakan pengukuhan Bunda PAUD Simeulue, ibu Hj Suryani beserta seluruh Bunda PAUD kecamatan se-Kabupaten Simeulue. Selamat bertugas, tugas berat menanti ibu-ibu dalam memajukan paud di Simeulue,” tulis Dyah dalam sebuah unggahan di Instagram miliknya, 26 Oktober lalu.

Menjadi istri orang nomor satu di Aceh memang membuat aktivitasnya sangat padat. Dalam tahun ini sa, Dyah gencar mengkampanyekan pencegahan stunting dan meluncurkan Rumah Gizi di berbagai pelosok Aceh.

Jauh sebelum itu, ia telah menjadi Duta Kesehatan bagi Aceh. Hingga hari ini, Dyah terus ‘berteriak’ pada ibu yang di rumahnya punya balita, “tak perlu kaya untuk hidup sehat. Alam Aceh menyediakan segalanya; ikan melimpah, sayuran-sayuran meruah.”

Ia aktif mengkampanyekan gerakan melawan stunting dan gizi buruk yang mengintai anak Aceh. Apa yang Dyah lakukan adalah untuk menjawab kekhawatiran atas permasalahan yang kini menjadi hal serius dan perlu untuk segera ditangani. Secara nasional, di awal tahun lalu angka stunting di Aceh mencapai 30 persen.

Sebagai salah satu wujud kepedulian tersebut, Pemerintah Aceh bersama seluruh pemerintah kabupaten/ kota mendeklarasi Gerakan Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi. “Anak-anak adalah harta karun untuk membangun bangsa, sehingga mampu bersaing dengan bangsa manapun di masa depan,” kata Dyah.

Indonesia, ujar dia, sedang mempersiapkan generasi terbaik menyongsong bonus demografi tahun 2025 hingga tahun 2036 mendatang.

 “Angka stunting harus kita tekan agar anak-anak kita menjadi generasi unggul dan mampu bersaing dengan bangsa manapun di masa mendatang.” Bersama PKK Aceh, alumnus Melbourne University Australia ini bergerak cepat, bergerilya ke seluruh Aceh. 

Kaum ibu dikumpulkan. Pada mereka diberikan pemahaman bahaya stunting. Bukan hanya itu, ia juga meminta ibu-ibu untuk menjauhkan anak dari kontaminasi telepon pintar.

Mereka, kata Dyah, masih terlalu dini untuk dikenalkan pada gadget. Memang, penggunaan handphone oleh anak sulit dihindari di zaman yang maju seperti saat ini.

“Namun kontrol tetap harus kita lakukan, agar anak-anak dapat menggunakan gadget sesuai dengan kebutuhan mereka karena memang banyak hal positif yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan gadget,” kata Dyah.

Selain itu, ia juga mengajak keluarga di setiap gampong di Aceh untuk menggiatkan kembali aktivitas gotong royong. Kegiatan bersama tersebut, kata Dyah, merupakan gerakan dasar untuk membangun kepedulian bersama antar-masyarakat.

“Gotong royong membangun silaturahmi dapat menumbuhkan semangat kekeluargaan, serta saling memiliki.” 

Tak hanya mengkampanyekan bahaya Stunting. Dyah juga aktif pada kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Agustus lalu, ia bersama kepala Dinas Pendidikan Aceh dan pimpinan lembaga Pendamping Anak Berkebutuhan khusus mendampingi Emillia Silvia Nabila untuk bersekolah di SMK Negeri 3 Banda Aceh. Sebelumnya, Emilia adalah anak berkebutuhan khusus.

Sebelumnya ia kesulitan untuk masuk ke sekolah tersebut karena belum adanya guru untuk mendampingi ABK. Awal April lalu, adalah Rakibah, penderita lumpuh asal Aceh Barat Daya yang dikunjungi Dyah.

Keluarga miskin itu tak menyangka, Dyah bakal mengunjunginya secara tiba-tiba. Mereka diberikan bantuan, kepada Pemda setempat, keluarga itu dititipkan, dipintakan untuk bisa mendapatkan perawatan. Sementara di bulan Ramadhan pada Mei hingga awal Juni lalu, Dyah bersama kelompok majelis taklim rutin berkeliling membagi sembako.

Tak mengenal tempat, tak mengenal waktu. Di pagi hari ia mengunjungi pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Gampong Jawa, berlanjut ke dayah hingga berjumpa kaum ibu pencari tiram di Krueng Cut. Pada siang hari, Dyah menghabiskan waktu di ruangan kampus. Sementara di sore hari sudah bergabung kembali bersama disabilitas.

“Apa yang kami lakukan harapannya bisa menggerakkan komunitas lain. Semakin banyak yang bergerak, Insya Allah akan semakin banyak yang mendapatkan manfaat,” ujar Dyah Erti Idawati perihal aktivitas berbagi yang digerakkan dirinya bersama kelompok Badan Kontak Majelis Taklim Aceh.

Jelang hari raya, Dyah juga menggerakkan kegiatan sosial. Ia memborong sekelompok anak yatim berbelanja, memilih suka hati baju lebaran di sebuah mall di Banda Aceh. Di lorong-lorong sesak dengan baju itu, para anak-anak menggenggam erat tangan Dyah. Bagi mereka, Dyah serupa ibu yang membelikan seragam ketika lebaran.

Kata Dyah, apa yang ia lakukan tak lebih dari sekedar berbagi. “Kita menyebarkan kebahagiaan bagi mereka yang memang memiliki kekurangan dibandingkan dengan kita,” kata Dyah. Di sana ia terus memperhatikan anak-anak yang sebagiannya berlarian kesana-sini. Seperti ibu yang tidak ingin anaknya hilang dari keramaian mall. Dyah lahir di Surabaya 3 Juli 1967. Hari Rabu, sekira dua pekan mendatang usianya genap 52 tahun.

Hampir setengah usianya dihabiskan di Aceh, bersama Nova Iriansyah, kini Pelaksana Tugas Gubernur Aceh. Sehari-hari, selain mengajar sebagai dosen tetap di Fakultas Teknik Unsyiah, Dyah Erti terlibat langsung dalam berbagai kegiatan TP-PKK Aceh dan Dekranasda Aceh yang dipimpinnya. Selain itu, istri Plt Gubernur Aceh ini juga menjabat Ketua Lasqi Aceh dan berbagai organisasi lainnya.

Kini, hampir genap dua tahun ia menjadi first lady di Aceh. Sebagai dosen, tangan dinginnya kerap dipakai membantu masyarakat, terutama bagi kaum ibu dan anakanak Aceh. Tak hanya mengajar, berbaur bersama masyarakat juga dijadikannya sebagai tempat untuk belajar.[***]

Artikel Ini Sudah Tayang di Media Cetak HD Indonesia : Edisi : 07  ( 01-15 NOVEMBER 2019 )

Komentar
Baca Juga
Terbaru