DATA BMKG 10 Agustus 2020

Illiza dan Ide Boomingkan Pariwisata Aceh

Illiza dan Ide Boomingkan Pariwisata Aceh

Momen kedekatan Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal dengan warga Banda Aceh FOTO: Klikkabar.com

HABADAILY.COM - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia telah menetapkan 10 provinsi di Indonesia sebagai Destinasi Wisata Halal. Dan Aceh nomor dua, setelah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mendapatkan predikat tersebut. 

Menyahuti hal itu, anggota Komisi X DPR RI Dapil Aceh, Illiza Sa’adudin Djamal mengatakan industri pariwisata Aceh semakin berkembang.

 “Hal ini terbukti dari beberapa indikator positif, seperti semakin membaiknya branding wisata Aceh di mata wisatawan, semakin banyak ragam paket wisata tematis yang diciptakan, dan semakin tinggi minat masyarakat untuk terlibat dalam industri pariwisata,” papar wanita kelahiran Banda Aceh, 31 Desember 1973 ini.

Selain itu, lanjut Illiza, atraksi wisata yang digelar hampir di seluruh Aceh juga terus meningkat, termasuk destinasi wisata baru dengan berbagai sarana pendukung. Di sisi lain, Aceh menempati posisi nomor dua di Indonesia untuk Destinasi Wisata Halal. Karena itu, Pemerintah Aceh harus fokus menjadikan produk wisatanya bersertifikat halal.

“Walaupun kita yakin itu halal, orang belum tentu yakin kalau itu halal karena belum tersertifikasi. Ini menjadi hal mutlak yang harus dilakukan. Mulai makanan, hotel, restoran, cafe, rumah makan, dan produk lainnya di Aceh harus betul-betul dan sudah tersertifikasi. Tinggal kita mempromosikan,” usul mantan Walikota Banda Aceh ini.

Illiza juga mengatakan dukungan dan komitmennya memajukan pariwisata di Aceh yang akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat.

“Saya di Komisi X DPR-RI sekarang memang fokus di wisata, pendidikan, pemuda dan olahraga. Ini kesempatan untuk menyuarakan itu,” tegasnya saat hadir pada pembukaan Aceh Sumatera Expo 2019 di Mall Kasablanka Jakarta.

Illiza sejak menjabat Walikota Banda Aceh lima tahun periode lalu, mencetus Visit Banda Aceh Year 2011. Pencetusan itu menjadi awal geliat industri pariwisata di Aceh dan menjadikan sektor ini salah satu penyumbang PAD terbesar di Kota Banda Aceh.

“Sejak awal saya bekerja, sudah kita sampaikan ke tingkat Kementerian Pariwisata bahwa Aceh harus jadi prioritas dalam program-program yang ada di kementerian tersebut. Saya katakan Aceh memiliki potensi wisata yang luar biasa, punya potensi wisata sejarah, religi, tsunami, alam,  budaya, gunung, dan lainnya. Pokoknya komplit wisata kita, jadi tinggal mengemasnya lebih baik lagi dan perbanyak mempromosikan,” ucap Illiza.

“Selain potensinya yang luar biasa, peninggalan kolonial, peninggalan konflik Aceh yang cukup panjang juga bisa dijadikan sesuatu yang menarik untuk dikemas, dan bisa dijadikan sebagai destinasi wisata baru di Aceh,” sebutnya.
Kemudian, infrastruktur, jalan, akses dan lain-lain terus dibenah, sehingga mempermudah akses wisatawan berkunjung ke objek wisata yang ada di 23 kabupaten/kota di Aceh.

“Tinggal pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kepedulian. Di sini masyarakat sadar wisata juga harus lahir. Seperti Bali yang masyarakatnya sangat sadar sehingga mendatangkan pendapatan,” terangnya.

Diungkapkannya, dari tahun ke tahun terus meningkat kunjungan wisatawan ke Aceh. Pada 2018 total kunjungan wisatawan ke Aceh mencapai 2,5 juta orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan 2017 yang hanya tercatat sebanyak 2,3 juta orang.[]

Artikel Ini Sudah Tayang di Media Cetak : HD Indonesia Edisi : 08  (16-30 NOVEMBER 2019)

Komentar
Terbaru