DATA BMKG 19 September 2019
Prof Dr. Yusni Sabi

Orasi Kebudayaan Lengkap Prof Dr. Yusni Sabi

Orasi Kebudayaan Lengkap Prof Dr. Yusni Sabi

Prof Dr. Yusni Sabi

HABADAILY.COM - Kita berada di dalam suatu suasana Hari Raya Halal Bi Halal, kita sudah menyaksikan pertunjukan budaya, pertunjukan seni, dan itu terjadi dihadapan kita, dan kita ada disini, maka dari itu semua harus kita pertanyakan maknanya, apa artinya? kalau kita mendengar musik, kita dengar puisi, kita dengar pidato, kita dengar cagok (lawak), kita bersama bersilaturahim, ya. Itu adalah produk dari sebuah prilaku budaya. Produk bisa plus bisa minus. Ditentukan oleh produsernya, dan inilah yang namanya budayawan-budayawan.

Kita bicara pidato sebenarnya tidak pas diangin badai, dimalam dingin seharusnya kita berselimut, konon pula ketika disuruh bicarakan pada orang-orang yang hampir kelewatan usia, disuruh main cagok sama Pak Din Pelor yang dulunya top bintang, tetapi ketika beliau tidak menyerah sebagai Budayawan, justru yang lainnya juga harus sadar bahwa masalah budaya, masalah seni adalah masalah identitas dan nilani sebuah masyarakat dan bangsa.

Di hiruk pikuknya malam minggu dengan badai, hujan dan embun, karena ini bagian dari proses, mari kita sedikit merenungi, ada budaya yang ini disebut 'Orasi Budaya" canggih sekali, sebenarnya ini bukan forum orasi budaya. Mestinya orasi budaya berada di sebuah auditorium--tenang, fokus, tidak hiruk pikuk mobil, hiruk pikuk angin, ada jalan raya, kita bicara renungan. Ada budaya ada kebudayaan, ada orang menyebutnya culture dan yang sebut Taqaffah, tapi diatas itu, disamping itu apa saja; ada adab, ada peradaban, ada civilization yang bisa dianggap lebih besar dari budaya. Ada seni, ada kesenian, ada seniman, ada satu paket di dalam wadah besar wadahnya manusia. Sejumlah budaya, sejumlah seni dan produknya itu, menjadikan sebuah peradaban, jadilah dia Islamic civilization, budaya Islam, budaya barat, budaya timur, budaya China, atau peradaban yang lebih besar lagi.

Berkaitan dengan  budaya, "wan" adan budaya ada budayawan, ada pemerhati budaya, silakan diantara kita. Ada pencinta Budaya, ada pakar budaya. Apakah ada budaya pakar, mungkin tidak ada tapi pakar budaya ada. Ada versi budaya. Ada budaya berpolitik, ada budaya beragama, ada budaya beragama makanya budaya agama dalam beragama, tetapi memakai budaya politik dalam beragama, ada budaya berbisnis ada juga budaya berbisnis dalam politik, atau berbudaya bisnis pada beragama. Luas budaya ini, lebih daripada budaya kerja. Lalu jangan-jangan ada budaya malas, jadi budawan. Budawan apa? ada budayawan bekerja dan ada budayawan yang malas.

Makanya, budayawan juga bermacam-macam. kalau disebut  "Seniman" seolah-olah lebih teknis, tetapi kita sebut Budayawan ada konseptual disana, dia ada produk-produk pemikiran disana, bukan hanya karya saja. Budawan-budawan dan para budawan, maka seniman juga yang punya konsep punya ide, masuk dalam budawan. Misalnya seniman tari ada, kadang-kadang menari saja. Dia seniman atau seniwati.
 
Ada Budaya akademis tetapi ada juga budaya non akademis. Budaya juga ada yang positif dan negatif, ada plus ada minus, ada yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Yang positif budaya rajin, budaya junjur hana "sulet", budaya disiplin, budaya sopan, budaya rendah hati hana "Embong", lage angen jampok geupeugah Pak Udin (Pelor) bunoe, budaya tanggungjawab; Itu bukan salah saya "ah", itu salah pemerintah "ah", itu salah pusat "ah", itu salah orang saya tidak salah, budaya tidak tanggungjawab. Ada budaya malu. Ketika orang-orang tidak punya lagi budaya malu "Awas", mana ada lagi orangmalu?. Budaya menghargai orang lain, bukan melecehkan orang lain. Menghina orang lain, Pupep orang lain, Jadi mana yang kita pilih, musti bidaya positif bukan budaya negatif. 

Ada budaya sehat, yang penting makan dan minum enak, bukan makan yang sehat minum yang sehat. Budaya sehat atau budaya tidak sehat. Yang negatif--mohon perhatian para budayawan--kita semua budayawan, apakah kita produser, penikmat, pemerhati, pencinta, penyanyang, kita adalah semua yang hadir disini budayawn.

Budaya buruk, budaya negatif, budaya malas, ingat kita pernah dicap sebagai pribumi malas, maka perlu didatangkan orang lain kemari untuk mengajarkan simalas-malas di Bumi ini. Budaya malas, budaya tidak jujur yang biasa diamalkan para koruptor, para manipulan, budaya tidak malu, budaya bohong sana-sini, budaya sombong dulu kami hebat, ini karya saya ini karya kami, mana ada anda. Sombong, tinggi hati, tidak toleran, jadi kita sudah pernah masyur dengan budaya tidak toleran ini. Beberapa survei di Indonesia mengatakan itu, budaya tidak toleran budaya yang aib. Padahal, kalau kita berbudaya agama saling kenal, saling sayang, saling peduli, saling toleran.

Oleh karena itu ada juga budaya agama, yaitu nilai agama yang dipakai dalam kehidupan nilai agama. Ingat, ada orang non muslim mmemakai budaya Islam sebagai tatanan hidup mereka. Semalam atau kemarin malam dalam ceramah Chalidin Yakup di mesjid Raya, bagaimana Selandia Baru yang hampir 100 persen non muslim bisa menjadi negeri yang paling Islami di muka bumi ini. Bayangkan, karena apa? Budaya agama. Bahkan budaya agama Islam yang dipakai untuk menata sistem negara. menata masyarakat, metata politik, menata sistem sosial mereka. 
Kita kadang-kadang agama pun kita approach kita dekatkan budaya lain, jangan kita beragama kita dekati budaya politik atau budaya bisnis. Na'uzubillah.

Ada budaya masala lalu yang dikatakan dulu kita begini dulu kita begitu. Ada budaya lalu tapi ada budaya yang kita inginkan dimasa depan. Budaya masa lalu kita pernah begitu toleransi, ingat siapa yang menjadi Qadi Muhibuladil atau bahkan sekretaris negara. Kalau namanya Nuruddin Ar-Raniry lahir di India dan bekerja di sini 4 tahun, Tapi beliau menjadi Qadi Malikul Adil. Siapa itu Hamzah Fansuri, Syamsuddin As Sumatrani, atau suka dan tidak suka yang mananya Habib Abdurrahman, yang namanya Panlima Tibang itu semuanya orang-orang asing, tetapi negara kita negeri kita memperkerjakan mereka, itu maknanya "budaya toleran", budaya yang global. Tidak sempit. Hanya "Buya Krueng" watee nyan. Bek Buya Krueng Teudong-dong Buya Tamong semua sama, yang rajin banyak makan yang malas sedikit makan.

Budaya itu alamiah dia. Muncul, tumbuh dari pribadi secara alamiah. Kalau kita lihat tiori ada yang namannya Externalization, sesuatu perilaku dilakukan oleh orang-orang besar yang penting, kemudian orang lain mengakuinya baik, objektifcation, diakui ah nyan jroh nyan. Ambilah yang paling sederhana budaya hitam dimulai dulu oleh Nabi Ibrahim, orang lain menilai itu baik untuk kesehatan dan lain sebagainya. Objektification , itu baik dan baru kemudian diseraplah dia menjadi budaya Internalitation diambil sebagai budaya, jadilah ia budaya hitam menjadi budaya dunia, dimulai oleh satu orang bijak, pintar, dan dihormati.

Produk budaya ada yang kongkrit ada yang abstrak. Produk yang kongkrit seperti tulisan, gambar, bangunan, tarian, nyanyian, bahasa sudah mulai kongkrit dan abstrak. Tapi ingat, ada sifat berfikir rasional, budaya rasional bertanggungjawab, ada budaya malu adalah produk budaya , adakah masih rasa malu pada diri kita, malukah kita kalau bersalah, malukah kita kalau menyeberangi lampu merah, malukah kita kalau korupsi, malukah kita kalau terlambat masuk kantor, malukah guru kalau terlambat masuk mengajar, malukah murid terlambat masuk kelas. Budaya malu itu budaya abstrak yang nilainya tinggi sekali. sudahkah semua kita pikirkan. Ada nyanyian, ada pantun, ada syair, sifat berani bukan bhudaya penakut. Budaya anti penjajahan, sehingga disegani. Semua itu dihasilkan oleh budayawan-budawan dari berbagai bidang. Aktor budaya, pelaku budaya, mungkin kita semua, mungkin orang lain sebelum kita, mungkin juga karya bersama.

Siapa yang mengarahkan kita ke Budaya baik. Ini penting sekali. Budaya positif, budaya bermanfaat. Nabi Muhammad diutuskan, juga dapat kita katakan budayawan yang akan menjadikan manusia rahmatadilalamin. Makanya tugas Nabi Muhammad, beliau mengatakan, maka tugas saya berperilaku baik pada manusia ini, manusia harus baik perangainya, jangan jahat, jangan pembohong, jangan pemalas, harus ada rasa malu, malu bahagian daripada iman. Malu adalah budaya malu. tapi ingat, yang tidak malu periksa imannya dulu. Oleh karena itulah diperlukan orang-orang yang sadar budaya yang mungkin kita-kita inilah diantaranya.

Satu kekuatan para budayawan dan seniman sekalian yang bermacam-macam rasnya apakah itu ras tari, ras seni, ras belajar, ras seniman, ras penyanyi, ras pembuat pantun dan sebagainya, bentuk dan kuatkan satiu jemaah yang utuh yang mau berbuat sesuatu untuk budaya kita, untuk masyarakat kita, Budaya Aceh yang Islami yang toleran yang bekerja keras yang berdampak untuk kemaslahatan umat manusia sebagaimana pemdahulu kita yang sudah memulai budaya bermanfaat untuk bangsa kita.

Kita sekarang selalu ingat budaya itu masa lalu saja, yang baik kita lestarikan, tetapi harus dalam satu format moderen. Ikuti sisi moderen yang terpercaya. Bila ada suatu lembaga yang punya badan hukum, ada anggaran dasar, anggaran rumah tangga, ada program kerja tahunan, menengah, dan jangka panjang, bila perlu buat database, daftar list siapa budayawan pemikir, Siapa budayawan politik, Budayawan Seni, siapa diantaranya yang perlu diangkat sebagai guru budaya, harus ada database dan program kerja, tidak bisa lagi kita bicara rencana di mic podium atau rapat-rapat, dia harus tercatat. Dimasa sekarang mungkin kita harus mempertahankan budaya lama yang bagus tetapi didalam format yang sekarang.

Kalau perlu database, atur dalam satu aturan organisasi yang baik yang tidak bisa lepas. Qanun Asyi saja, Undang-Undang Aceh itu sudah diciptakan ratusan tahun lalu dan itu tertulis. Buat bentuk dan bina jaringan dengan lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, dengan LSM, dengan lembaga hukum, dengan konlomerat, dengan seniman, pakar, sarjana dan sebagainya. Buat bentuk dan bina jaringan dengan berbagai pihak terkait, dan ingat kita hidup dizaman moderen, walau yang kita perjuangkan budaya lama itu harus dengan tata cara yang moderen. Akui dan hargai bahwa yang berbeda-beda bukan salah. Ureung Aceh geukheun; Ladom galak ke jileupak, ladom galak keu krak teupong. Ladum galak puteh meuprak, ladom galak hitam kaleung. Nyanggalak puteh meuprah nyang galak hitam kaleung, silakan sama indahnya. Pat Na ujen nyang hana pirang Pat na Prang nyang hana reda, mungkin  suatu saat kita bersengketa berselisih tapi damaikan, Perang, meriam atom tidak menyelesaikan masalah, nyang menyelasaikan masalah duduk bersama dimeja perundingan, tidak ada yang tidak bisa selesai. 

sebenarnya tidak susah lagi, semua sudah ada di depan.  Hasil alam melimpah, sarjana banyak, rumah sekolah banyak, pabrik dimana-mana, tinggal kita eksplore kemana. Gah na, uteun na, engkot na, Blang na, neuheun na, laot na, apa susahnya , tapi harus kita bina dalam satu budaya, budaya tanggungjawab, budaya kerja keras.

Dan terakhir kita baru terhormat dan disegani geutakot keu angkatan. Angkatan adalah power, jabatan kekuatan. Kekuatan sekarang adalah ilmu pengetahuan. Itulah kekuatan kita Geutakot keu angkatan Geutakot hanya dengan  ilmu pengetahuan angkatan kita bisa memproduksi apa-apa untuk membuat kita berwibawan.

Orasi Kebudayaan Lengkap Prof Dr. Yusni Sabi, Ph.D
Pada Halal Bi Halal Seniman Aceh
Taman Budaya dan Seni Aceh Sabtu, 22 Juni 2019

Komentar
Terbaru